HANTU…Alas…PURWO

……welcome to dunia hantu dan jin……

BULE JERMAN INGIN JADI CALEG BALI

Jan
10

KISAH HIDUP Petra Odebrecht, BULE JERMAN YANG JADI CALEG BALI

Filed Under (Kisah hidup) by lieagneshendra on 10-01-2009

 

[ Minggu, 11 Januari 2009 ]
Petra Odebrecht, Caleg DPR RI asal Jerman yang Bertarung di Dapil Bali
Belajar Politik Empat Bulan, Kaget Waktu Dimintai Uang  

Ada warna lain dalam pemilihan anggota legislatif 2009. Warna itu muncul dari sosok Petra Odebrecht, 41, calon anggota legislatif DPR dari Partai Demokrasi Pembaruan (PDP). Namanya terdengar asing karena dia memang lahir dan besar di Jerman. 

I KETUT ARI TEJA, Denpasar 

Berbeda dengan caleg umumnya, yang begitu mudah ditemui, Radar Bali (Jawa Pos Group) sempat kesulitan menemui Petra Odebrecht. Membuat janji wawancara dengan caleg perempuan berkulit bule dan berambut pirang itu butuh lobi dan waktu cukup lama.

Saat ponselnya dikontak pada awal percakapan, Odebrecht begitu ramah. Namun, begitu tahu peneleponnya dari wartawan yang ingin wawancara, sikap Odebrecht berbalik 180 derajat. Dia langsung menjawab dirinya sibuk. ”Saya supersibuk ini. Hubungi saya dua hari lagi. Saya akan tentukan jadwal,” ujarnya merdu dalam bahasa Indonesia yang terbata-bata, beberapa waktu lalu.

Pada waktu yang ditentukan, Odebrecht menghubungi koran ini dan mengatakan bisa ditemui di Vila Desa Seni di kawasan Batu Belig, Kerobokan, Kabupaten Badung, Bali. ”Saya tunggu jam 10.30 Wita. Pas setelah saya selesai mengajar yoga di sana (Vila Desa Seni),” cetus perempuan berumur 41 tahun itu. 

Tempat yang disebut Odebrecht itu terletak di kawasan vila elite yang rata-rata dimiliki warga negara asing yang tinggal di Bali. Vila Desa Seni, tempat janjian wartawan koran ini dengan Odebrecht, adalah milik orang Kanada. Odebrecht rutin mengajar yoga di sana.

Memasuki halaman Vila Desa Sani, dedaunan dan rumput di halaman masih terlihat basah karena hujan baru saja reda. Karena itu, untuk berjalan mesti mengikuti arah batu bulat yang dipasang berjajar sebagai jalan setapak. 

Vila Desa Sani sangat asri. Bangunannya terbuat dari kayu antik dengan atap ilalang. Penataan tamannya sangat apik. Tarif sewa untuk tinggal semalam di peristirahatan ini dipatok Rp 1,5 juta. Diantar karyawan setempat, Radar Balidiminta menunggu di restoran. Persis di depan restoran ada bangunan terbuka. Di bangunan inilah Odebrecht mengajarkan yoga. 

Caleg DPR nomor urut 5 dapil Bali dari PDP itu sedang serius menunjukkan beberapa gerakan yoga. Mulai telentang, duduk bersila, mengangkat kaki ke atas, hingga menakupkan tangan di hulu hati. Kemudian menghela napas panjang beberapa kali. Sesi mengajarnya diakhiri gerakan menutup wajah dalam waktu lama. 

Tepat pukul 10.25 Wita mata para peserta yoga dibuka. Dan, Odebrecht pun bangkit dari duduknya yang beralas bantal tipis sambil berujar, ”Agenda pelajaran yoganya selesai.” Dengan wajah yang masih menyisakan peluh, Odebrecht menghampiri koran ini. ”Sambil makan saja ya, saya lapar ini,” sambut Odebrecht.

Sambil menunggu makanan datang, Odebrecht menceritakan kisah dirinya terjun ke ranah politik Indonesia. Dia mengawali dengan penjelasan mengapa memilih “kendaraan politik” PDP. Perempuan paro baya yang masih langsing itu mengisahkan, semula ada tawaran dari salah satu petinggi PDP pusat yang bernama Rusli Ambodale. Dia kenal dengan Rusli lantaran pria yang sempat menjadi anggota DPR dari PDIP itu beristri orang Jerman. ”Saya kenal istrinya karena sama-sama Jerman. Saya diminta ikut ke partai politik. Saya acuhkan saja sambil berpikir,” ungkap pemilik bola mata biru itu, sambil menyeruput teh hangat.

Setelah berpikir cukup lama, sekitar empat bulan, Odebrecht memutuskan masuk PDP sebagai kader. Dan, baru tiga bulan lalu, wanita yang sudah menetap 15 tahun di Bali itu memberikan keputusan mau menjadi caleg DPR dari PDP nomor urut 5. ”Jadi, saya resmi sebagai orang politik baru empat bulan, waktu yang sangat muda. Tapi, saya sangat menikmatinya,” akunya dengan bahasa Indonesia berlogat bahasa Inggris. 

Sebenarnya apa yang membuat dirinya tinggal di Indonesia? Odebrecht mengatakan dirinya tinggal di Indonesia mulai 1989 karena menikah dengan orang Bandung. Empat tahun berjalan, muncul guncangan dalam biduk rumah tangganya. Dia pun bercerai pada 1993. ”Saya putuskan cerai tanpa ada anak dari perkawinan kami,” sebutnya dengan suara mengecil.

Dengan menyandang status janda, Odebrecht mengadu nasib di Bali. Dia tinggal di rumah milik saudara misannya di Jerman yang kebetulan punya istri orang Bandung dan punya rumah di Bali di kawasan Kerobokan, Badung. ”Jadi, saya saat ini sudah sendiri (menjanda) 15 tahun. Dan terjun terjun ke politik,” ujarnya. 

Berbagai pekerjaan dilakukan Odebrecht untuk bertahan hidup. Dia pernah menjadi destination manager untuk sebuah agen perjalanan Jerman. Latar belakang pendidikan ekonomi di Jerman cukup menunjang karirnya. Namun, lantaran bom Bali, bisnis perusahaan terpukul, wisatawan asal Jerman sepi sehingga dia sempat ditarik ke Jerman selama tiga bulan. Karena tidak sesibuk sebelumnya, kali ini Odebrecht belajar yoga sambil bekerja. Butuh waktu sampai tujuh tahun belajar yoga di Bali. Akhirnya dia mampu menjadi guru yoga yang andal dan meninggalkan pekerjaan di biro wisata. Sebagian besar murid Odebrecht adalah para WNA juga. “Yoga memberikan keseimbangan, hingga membuat kita lebih sehat, bahkan terlihat lebih muda,” ujarnya.

Odebrecht menegaskan, terjun ke dunia politik Indonesia tidak dengan modal asal-asalan. Dia mengaku sudah banyak belajar tentang falsafah bangsa Indonesia, termasuk UUD 1945 dan dasar negara Pancasila. “Saya mulai serius sekarang baca undang-undang di Indonesia, bahkan Pancasila saya sudah hafal. Namun, yang kerap lupa adalah sila ke-4. Mungkin karena paling panjang ya… ha… ha,” selorohnya. 

Odebrecht mengatakan, makna isi Pancasila dan UUD 1945 itu sangat dalam dan mulia. Bahkan, jika jalannya pemerintahan mengacu ke UUD 1945 dan Pancasila, dia yakin Indonesia akan mampu menjadi negara besar. “Saya yakin negara ini akan maju. Namun, sayangnya banyak yang dilakukan para pejabat di luar aturan, seperti korupsi yang menggerogoti Indonesia,” ungkap Odebrecht dengan gemas.

Artinya, jika lolos menjadi anggota DPR, dia akan mengibarkan bendera perang terhadap korupsi? Ditanya seperti itu, Petra sedikit menghela napas panjang. Dia mengatakan, sebenarnya tak ada maksud untuk berjanji sebelum duduk di DPR. “Selama ini banyak janji bullshit muncul, saya akan begini, saya akan begitu. Pertanyaan Anda ini membuat saya harus berjanji,” sergahnya, dengan mengeryitkan alisnya.

Namun, Odebrecht akhirnya mengakui bahwa cita-citanya menjadi anggota DPR memang ingin memerangi korupsi. “Maunya saya, tidak ada lagi yang ditangkap KPK,” sebutnya. 

Model kampanye apa yang akan ditempuh? Odebrecht mengatakan, dirinya baru berkampanye keliling Bali pada Maret 2009, setelah jadwal kampanye terbuka dimulai. Dia akan bergabung dengan caleg DPR nomor urut 1 PDP Nengah Netra. “Nanti ada model-model kampanye yang sudah disiapkan oleh partai dan kami rancang bersama. Yang pasti, kami tidak akan melakukan kampanye yang menjanjikan uang,” tegasnya.

Odebrecht mengaku sangat kaget ketika datang ke perusahaan sepatu temannya. Ketika dia datang, semua menyapa dan menanyakan kabar setelah jadi caleg. Semula Odebrecht senang. Namun, dia menjadi terkaget-kaget setelah semua bertanya kalau memilih dirinya apa yang akan didapatkan. “Saya benar-benar superkaget, kok pemilihan caleg seperti jual beli. Memilih caleg dapat apa? Ini saya nggak ngerti, memilih dapat uang, atau dapat nasi goreng dan lain-lain. Gila ini…,” sebut dia.

Odebrecht mengatakan bahwa dirinya sangat anti dengan politik uang. Memang banyak caleg yang menerapkan seperti itu. Namun, dia mengaku akan berjuang agar di PDP tidak seperti itu. “Saya tak akan ngasih uang, mau pilih silakan. Mau tidak pilih silakan. Selain memang tak punya uang, saya benci model bayar sebelum memilih (serangan fajar). Tidak akan pernah saya lakukan,” sebut perempuan kelahiran kelahiran 30 Januari 1967 itu. 

Di akhir percakapan dia mengatakan, ada dua tokoh panutan yang dimiliki Indonesia di mata Odebrecht. Yang masih hidup menutut Odebrecht adalah Ketua Umum PDP Laksamana Sukardi. Dia menganggap Laksamana orang yang cerdas. Sedangkan yang sudah meninggal adalah Bung Karno. “Partai kami berlandaskan paham Marhaenisme Bung Karno. Beliau orang besar yang dimiliki Indonesia. Berbanggalah orang Indonesia,” ujarnya.

Januari 21, 2009 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: