HANTU…Alas…PURWO

……welcome to dunia hantu dan jin……

sejarah harta bung karno

.
     
 
Belum ada chart.
 
   
Belum ada nilai.

Ada sebuah kata yang sangat popular di kalangan penganut ajaran dan pemikiran Bung Karno, ialah kata “Jasmerah” yang merupakan singkatan dari “Jangan Melupakan Sejarah.” Kata-kata itu merupakan refleksi dari kata-kata yang sering disampaikan Bung Karno dalam berbagai kesempatan pidato kenagaraannya; “bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah.” Yang penulis maksudkan “Bung Karno” disini adalah Ir. Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia.

Kharisma politik Bung Karno yang hingga kini masih terasa, merupakan hasil strategi komunikasi politik yang ia bentuk sejak ia masih dalam era perjuangan kemerdekaan Indonesia hingga akhir hidupnya. Sepeninggalannya pun, ketokohannya menjadi lengenda bagi sebagain besar masyarakat Indonesia. Bahkan kehebatannya pun masuk dalam ranah dunia mistik, karena ia sering menggunakan simbol komunikasi politik berupa tongkat kecil yang menjadi ciri khasnya kemanapun ia berada.

Kalau peci yang dipakai Bung Karno menjadi simbol komunikasi politiknya dalam bidang budaya, bahwa seorang pemimpin atau seorang pejabat Negara Indonesia harus menggunakan peci sebagai pakaian resmi nasional Indonesia, walau kenyataannya memang pecinyalah yang membuat Bung Karno tambah gagah dan berwibawa, sebab tanpa peci Bung Karno terlihat bocak dan kurang berkharisma.

Sedangkan tongkat yang dipakai menjadi komunikasi politik yang membawa makna strategi komunikasi alam semesta. Kalangan kejawen banyak menterjemahkannya sebagai sebuah simbol yang penuh makna magis yang menjadi sentra komunikasi alam semesta. Ciri khasnya, keris atau tongkat tersebut tidak bisa dipegang oleh siapapun kecuali dirinya sendiri. Sedangkan kacamata hitam yang ia pakai sebagai kelengkapan atas tampilan dirinya, adalah simbol teknologi, konon kabarnya kacamata itu tebus pandang, sehingga Bung Karno bisa mengetahui orang sekitar yang membawa senjata berbahaya bagi dirinya atau tidak. Sedangkan simbol-simbol yang melekat pada bajunya merupakan pencitraan bahwa dirinya adalah Presiden Republik Indonesia sekaligus Panglima Tertinggi dan Pemimpin Besar Revolusi Indonesia.

Tampilan Bung Karno dengan simbol-simbol ini telah memberikan nilai tersendiri dan amat besar pengaruhnya terhadap sukses dirinya dalam melakukan komunikasi politik sebagai pemimpin sekaligus sebagai Bapak Bangsa. Ia amat dekat dengan rakyat kecil, karena ia memang dilahirkan dari kalangan rakyat jelata, bukan kalangan ningrat. Petani yang ia sering diajak ngobrol di perkebunan singkong di desanya semasa kecil menjadi ilham pemikiran untuk meramu politik kaum proletar. Ia menemukan kaum kecil ini dengan istilah yang ia populerkan sendiri, marchenisme. Ialah sebuah konsep pemikiran pemahaman bahwa rakyat kecil, kaum petani, kaum buruh, dan lainnya harus menjadi bagian dalam konsep pemakmuran bangsa.

Bagi Bung Karno, ini adalah gambaran betapa kontrakdiktifnya antara berkah yang telah Tuhan berikan kepada seluruh bumi Indonesia berupa kekayaan alam yang luar biasa dengan kenyataan bangsa Indonesia yang hidup jauh dibawah garis kemiskinan. Kontrakdiktif menjadi sebuah pertanyaan sekaligus menjadi kajian; bahwa telah terjadi kesalahan konsep dalam pemaknaan kemakmuran dan pembangunan bangsa. Artinya, pasti ada yang salah dalam konteks ini.

Untuk menjawab persoalan ini, maka terlebih dahulu kita harus mencari kesatuan pemahaman bahwa Indonesia pernah menjadi besar ketika era kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sriwijaya. Wilayah teoritorial mereka mencapai wilayah negara-negara anggota ASEAN kini umumnya. Maka tak heran banyak kesamaan budaya dan kesamaan bahasa antara rumpun Melayu dan rumpun Asean lainnya.

Kebesaran negara Majapahit, Pasundan dan Sriwijaya ini tercatat amat jelas dalam berbagai literatur sejarah peradaban dunia. Dibalik itu, semasa keemasan telah terjadi transaksi jual beli dengan barter. Seorang petugas kerajaan akan menukar sebatang emas untuk membeli sekarung beras. Bahkan utusan kerajaan Tiongkok ketika banyak mengirimkan batangan emas ke Indonesia untuk ditukar dengan benda-benda berharga lainnya, seperti rempah-rempah dan sebagainya, dan tau sebaliknya. Bahkan pulau Sumatera digelari sebagai “swarna dwipa” alias pulau emas.

Majunya perdagangan ini telah memicu pedagang Belanda untuk mendirikan sebuah perusahaan dagang dengan nama VOC[1]. Semula organisasi dagang orang-orang Belanda[2] ini hanya berdagang biasa, tetapi lama kelamaan petinggi VOC bernafsu untuk memonopoli jalur perdagangan internasional ini. Apalagi tanah Indonesia dinilai sangat subur bagi tanaman dan sangat kaya dengan mineral yang berguna bagi revolusi industri yang sedang terjadi di Eropa.

Ini merupakan perbedaan yang sangat mendasar antara penjajahan Inggris seperti yang dialami oleh Malaysia, Hong Kong dan negara-negara Commonwealth lainnya dengan penjajahan Belanda. Penjajahan Inggris dilakukan oleh Pemerintahan Inggris sendiri yang disetujui oleh parlemen Inggris, sedangkan penjajahan Belanda tidak dilakukan oleh Pemerintahan atau Kerajaan Belanda melainkan hanya oleh sebuah perusahaan yang bernama VOC. Perbedaan ini juga membuat berbeda format menjajah. Misalnya, Inggris dalam menjajah lebih mengutamakan pendidikan dan kebudayaan sehingga sumberdaya manusia masih dihargai sebagai aset bagi perekonomian. Sedangkan VOC tidak menghargai sumber daya manusia. Bagi VOC tenaga kerja hanya dipandang sebagai mesin, harus kerja tanpa imbalan. Bahkan pendidikan rakyat yang dijajahnya pun tidak diperhatikan. Makanya di zaman VOC yang bisa sekolah tinggi itu hanya kalangan ningrat saja. Cara ini berdampak pada prilaku dan tatacara hidup masyarakat bekas jajahan mereka. Bekas jajahan Inggris berakhir dengan suasana kekeluargaan, sedangkan penjajahan VOC berkahir dalam suasana permusuhan.

Semangat permusuhan ini pulalah yang mewarnai dalam proses peralihan aset ekonomi bangsa. Bung Karno dengan segala kebenciannya terhadap sistem kapitalisme dan imprealisme VOC ingin mengambil alih aset-aset ekonomi yang selama ini dikuasai oleh VOC. Bank sentral yang di era VOC bernama De Javasche Bank (DJB) dinasionalisasi tahun 1952, setelah melakukan debat panjang dengan Syafruddin Prawiranegara[3]. Namun peralihan itu berdampak terhadap pelarian aset-aset bangsa Indonesia yang tadinya tersimpan di bank tersebut. Sebab, ketika DJB ada, kalangan bangsawan Indonesia ketika itu banyak menyimpan kekayaannya, namun setelah dinasionalisasi, aset tersebut menjadi tidak jelas nasibnya. Bisa jadi memang aset-aset tersebut sudah dilarikan VOC ke negaranya, Belanda.

Ketika Perang Dunia Pertama, Jerman menjadi pemenang, maka aset-aset Indonesia yang “dicuri” oleh VOC, dirampas oleh tentara Nazi Jerman. Tetapi ketika Perang Dunia Kedua usai dan pemenangnya adalah Amerika Serikat, maka lantakan emas yang tersimpan di Jerman itu disita lagi oleh negeri Paman Sam itu untuk kemudian dijadikan aset untuk pendirian The Federal Reserve (FED) sebagai bank sentral Amerika Serikat.

Cerita tentang jalur kemana batangan emas Indonesia ini berada terbaca jelas oleh Bung Karno, makanya ia kemudian melakukan strategi komunikasi politik tingkat tinggi dengan pihak Pemerintahan Amerika Serikat. Ketika itu yang menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) adalah John F. Kennedy. Dengan latar belakang sejarah itu, kemudian Bung Karno berhasil meyakinkan pihak AS bahwa harta itu adalah milik bangsa Indonesia. Pihak AS pun bersedia mengakuinya, tetapi mengabaikan azas pengembaliannya, karena batangan emas itu merupakan harta rampasan perang. Komunikasi politik Bung Karno ketika itu mengambil jalan tengah dan musyawarah, sebab kalau pengakuan aset itu dengan catatan ditolak, maka kondisi politik akan menjadi lain. Akhirnya, Bung Karno setuju pengakuan aset dengan catatan itu; ialah ia meminta pihak AS untuk membayar biaya sewa sebesar 2,5% (dua setangah persen) setahun kepada bangsa Indonesia. Namun yang perlu dipahami adalah ketika itu Bung Karno tidak menggunakan istilah pemerintah Indonesia, tetapi bangsa Indonesia.

Kesepakatan itu pun direalisasi dalam perjanjian yang sangat terkenal bernama Memorial Green Hilton Agreement yang ditanda tangani pada 21 November 1963 antara John F. Kennedy selaku Presiden AS, Bung Karno selaku wakil Bangsa Indonesia dan William Vocher sebagai wakil Swiss yang kelak bertugas untuk mengkondisikannya di United Bank of Switzerland (UBS). Kesepakatan itu memuat bahwa pemilik (the owner) batangan emas yang ada di AS itu adalah bangsa Indonesia atas nama (under name) Mr. Soewarno, Mr. Fatollah dan Mrs Sarinah atas permintaan Bung Karno serta membatalkan owner lainnya yang pernah ada. Paket kesepakatan itu memuat 17 paket emas batangan yang keseluruhannya berjumlah 57 ribu tom emas. Perjanjian tersebut akan berlaku 21 November 1965. Namun sayang, 30 September 1965, tepatnya dua bulan sebelum jatuh tempo berlakunya perjanjian itu, Bung Karno “dikudeta” oleh Soeharto atas dukungan pihak Amerika Serikat dan John F. Kennedy pun terbunuh pada waktu menjelang berlakunya perjanjian Green Hilton Agreement.

Banyak kalangan berpikir dengan jatuhnya kepemimpinan Bung Karno, maka secara otomatis akan membatalkan perjanjian Green Hilton Agreement. Dugaan itu salah, sebab Bung Karno menekan perjanjian bukan atas nama Pemerintahan Indonesia melainkan atas nama bangsa Indonesia alias atas nama rakyat Indonesia. Dan itupulalah yang menyebabkan, bahwa harta tersebut tidak bisa dicairkan oleh Presiden RI berikutnya, ternasuk Megawati Soekarno Putri yang ketika menjadi Presiden RI berfungsi ganda, karena juga anak biologis Bung Karno. Namun semua itu juga tidak bermakna. Artinya, Bung Karno dan Tim UBS memiliki cara dan mekanisme kerja tersendiri sebagai bagian tak terpisahkan dengan penjanjian Green Hilton Agreement.

Perjuangan komunikasi politik Bung Karno ini menciptakan persepsi tersendiri tentang Indonesia. Ialah bahwa Indonesia telah menjadi koleteral dunia. Sebab 57 ribu ton emas tadi telah menjadi jaminan atas penerbitan mata uang dunia yang disebut Dollar Amerika Serikat (USD). Bank-bank papan atas dunia pun terpengaruh oleh persepsi itu. Sehingga ketika krisis dunia tahun 1987, banyak bank besar dunia mencoba untuk mencairkan aset Indonesia dengan cara menerbitkan surat berharga atas nama orang Indonesia yang tidak jelas asal usulnya. Jumlahnya pun fantastis, ada yang bernilai USD 500 juta, ada yang bernilai USD 1 milyar bahkan lebih.

Lalu surat berharga ini mereka jual di pasaran uang internasional. Karena persepsi pasar uang yang sudah terbentuk tersebut, maka beberapa bank besar dunia menyetujui transaksi-transaksi tersebut melalui program private investment yang berpola high yield program atau dikenal dalam masyarakat awan Indonesia dengan nama, rolling program yang keuntungannya menawarkan 200 hingga 600 persen dalam 10 bulan transaksi.

Perspesi inilah kemudian yang menjadikan banyak orang Indonesia yang tidak mengerti sejarah kolateral dunia ini menjadi boneka kalangan fund manager asing yang selalu bolak-balik ke Indonesia untuk mencari orang Indonesia yang bisa dijadikan boneka. Umumnya mereka pilih orang Indonesia yang punya passport tetapi tidak bisa bahasa Inggris dan tidak mengerti dunia perbankkan internasional.

Persoalannya sekarang, keberhasilan persepsi yang dibentuk Bung Karno melalui strategi komunikasi politiknya bisa dimanfaatkan oleh bangsa Indonesia dengan benar apa tidak.

Maret 15, 2010 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: